Sunday, April 24, 2011

Andai dia tahu aku akan jadi apa

Apa yang terdengar, terlihat dan terasa sesungguhnya itu adalah petunjuk, maka beruntunglah bagi yang menggunakan akal dan fikirannya. kebanyakan dari kita hanya melihat sesuatu itu dari kulit luarnya saja, kita tidak pernah mengupas makna dibalik suatu kejadian untuk kemudian kita terapkan dalam kehidupan kita. kita terlalu sibuk membenarkan apa yang sudah biasa, tetapi disisi lain kita melupakan untuk membiasakan yang benar. kita terlena dengan pemikiran-pemikiran yang rumit, yang semakin hari mendominasi dalam pemikiran kita. kepedulian kita terhadap sesuatu hanya berdasarkan gaya hidup yang berkembang, kita jarang menyatakan kepedulian yang bersumber dari hati nurani kita sendiri, sehingga penilaian hitam putih menjadi buram, hitam menjadi putih, putih menjadi hitam.
pernahkah kita berfikir bahwa segala sesuatu itu terjadi berkaitan dengan pola fikir kita? sebagai contoh ketika kita melihat kejadian orang yang baru saja putus hubungan, kebanyakan dari kita akan merasa empati dan berusaha membesarkan hati orang yang mengalami itu berdasarkan tingkat kedekatan emosional kita. kita tidak menempatkan sikap objektif sesuai kebenaran nurani, tetapi lebih kepada subjektifitas pribadi. yang secara tak sadar kita telah gegabah bersikap membela dan menghadirkan pemahaman subjektif yang kemudian diterapkan oleh pelaku kejadian tersebut. dan apabila kejadian ini jamak dilakukan, maka yang terjadi adalah pemahaman global terhadap suatu kasus yang kemudian menjadi trend pola pikir.
untuk itu marilah kita kembalikan ke dasar sumber pemahaman, kembalilah kepada kesederhanaan berfikir, kita harus tahu darimana sumbernya dan bisa dibuktikan kebenarannya, agar kita ditunjukkan dua sisi mata uang, kita akan melihat hitam dan putih secara jelas, sehingga kita bisa membedakan dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. marilah kita mulai dengan rasa menerima, menerima suatu keadaan dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi kita. ketika kesadaran akan hal itu tumbuh dalam diri kita, sesungguhnya disitulah kita mengkaji "untuk apa aku diciptakan?". hal-hal yang terlewati selama ini akan keluar dari memori alam bawah sadar kita, segala himpunan pengetahuan yang telah didapat akan menjadi petunjuk bagi diri kita yang belum tahu akan menjadi apa kita kedepan.
inilah tahap awal dalam kesadaran kita, yaitu kesadaran untuk mengetahui tujuan hidup.

setelah itu kita harus yakin tanpa adanya ambisi yang menyertai untuk mencapai tujuan tersebut. disinilah terjadinya perbedaan yang tipis yang mengakibatkan kesimpulan akhir yang berbeda. apakah sampai "hanya sekedar selesai" atau sampai kepada "menjadi bernilai". orang yang menghimpun berbagai macam pengetahuan yang akan membawanya mencapai tujuan dan menjadikannya sebagai landasan keyakinannya adalah orang yang yakin. dia akan berdiri tegak diatas kebenaran karena mengetahui sumber dan membuktikannya baik dari pengalamannya sendiri ataupun pengalaman orang lain. dia juga menghimpun pengetahuan tentang ketuhanan dan menjadikannya sebagai landasan sikap batinnya, orang yang yakin adalah orang yang menyatukan lahir dan bathinnya untuk mencapai tujuannya, sementara orang yang ambisi adalah orang yang tergesa-gesa dalam mencapai tujuan. dia menghimpun hanya sebatas apa yang menjadi kepentingannya saja. dia berjalan pada pola pikir subjektif yang cenderung membenarkan pendapat pribadinya, yang tanpa sadar ketika menghadapi berbagai rintangan yang menguji keteguhan bathinnya, maka dia tidak akan menerima kesalahan yang terjadi, sehingga semakin lama dia akan keluar jalur dan terpental dari tujuan awalnya dan kemudian akan menjadi orang yang selalu menyalahkan sistem. inilah tahap kedua dari perjalanan kesadaran kita, yaitu kita harus menjadi orang yang yakin sebenar yakin, yaitu yakin secara akal dan secara hati.

inilah kesadaran yang harus kita jaga, agar dapat diterapkan sehingga kemudian berbalik menjadi pola pikir yang selalu sadar, baik sadar akan segala hal yang terjadi maupun sadar tentang hal yang akan terjadi yang semuanya menyangkut ke arah tujuan kita. semakin banyak kesadaran yang muncul maka hal itulah yang menjadikan kita dan membuat kita akhirnya mengetahui "bahwa aku diciptakan sesuai yang kumau".

Monday, April 11, 2011

Rangkaian System Syaraf

Monolog Fikiran...........
apa yang aku inginkan?
bagaimana aku melakukannya?
kalo seandainya cara nya begini, apa yang akan terjadi?
kalo seandainya nanti ada kendala, maka apa yang harus aku lakukan?
apa tidak ada jalan lain?
jika ada...
kalo seandainya cara yang seperti ini yang kulakukan, apa pula yang akan terjadi?
kalo seandainya nanti ada kendala juga, maka apa yang harus aku lakukan? 
apa tidak ada jalan lain?
jika ada...
kalo seandainya cara terakhir yang kulakukan seperti ini, bagaimana lagi yang akan terjadi?
kalo seandainya nanti masih ada kendala juga, maka apa lagi yang harus aku lakukan?
.............
ketika akal memiliki keterbatasan

Monolog Hati....
aku ingin itu
aku yakin aku mampu melakukannya
jika seandainya nanti ada kendala, setidaknya aku masih berdiri disini dalam keadaan menuju hal itu
semoga Engkau membimbing langkahku mencapainya
.............


Mataku terbuka melihat GerakMu
Telingaku terbuka mendengar QalamMu
Fikiranku terbuka memahami AjaranMu
Hatiku terbuka menghayati Kasih SayangMu

aku bersyukur Engkau Maha Mengabulkan Doa
besok-besok aku akan meminta hanya kepadaMu, karena hanya Engkau yang Maha Memiliki
jika Engkau belum memberi, maka akan kubuktikan dengan "caraMu" bahwa diriku "layak" menerimanya.

Wednesday, April 6, 2011

“CARA”

Semua orang bingung “cara”, semua orang butuh “cara”. Jika dikaji secara harfiah “cara” adalah bagaimana kita melakukannya agar sampai kepada tujuan.
Artinya bagaimana kita dapat menemukan "cara" jika kita tidak tahu apa yang menjadi tujuan kita. Oleh sebab itu pertama kali yang harus kita lakukan adalah menetapkan tujuan kita.

Kita diminta untuk mempunyai cita-cita setinggi langit, kita diminta untuk terus menghidupkan keinginan, kita selalu dituntut, kita seolah-olah selalu dipaksa untuk selalu memenuhi kebutuhan baik itu kebutuhan kita sendiri ataupun kebutuhan orang lain. Seolah-olah yang namanya manusia tidak akan pernah mengalami yang namanya bebas dari keinginan. Setelah selesai satu masalah selalu ada masalah lain yang muncul yang entah kapan berakhir, sampai kita sendiri akhirnya cuma dapat menjadi antara dua golongan yaitu ”Yang berhasil” atau ”yang Gagal” yang ditandai dengan kondisi kita saat ini.

Di sisi lain ketika kita mengembalikan semua kepada Sang Pencipta yang dengan bahasaNya mengatakan bahwa kita adalah seorang ”khalifah”, bahwa kita harus mengejar dunia ini seolah-olah kita hidup seribu tahun lagi dan mengejar akhirat seolah-olah kita mati esok. Jadi ”tujuan” seperti apa yang seharusnya kita tetapkan dalam hidup kita???

Pernahkah kita berfikir, bahwa sebenarnya Tuhan menjadikan segala sesuatu tidak dengan sia-sia, Tuhan pasti mempunyai maksud dibalik semua ini. Ketika kita mulai menetapkan tujuan, maka ketika itu pula Tuhan meresponnya, ketika itu pula secara otomatis sistem Tuhan berjalan baik untuk tujuan kecil maupun besar.

Tuhan tidak akan membebani manusia dengan sesuatu yang melebihi kemampuannya. Ketika seseorang menetapkan suatu tujuan yang bahkan dia sendiri tidak memahami secara luas apa yang di tujunya, maka sesungguhnya Tuhan langsung meresponnya. Tuhan tidak menguji orang tersebut karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia mengetahui bahwa orang tersebut tidak akan sanggup jika Dia yang menguji. Maka Tuhan membuat sistem berupa makluk yang bernama jin, syaitan, iblis untuk menguji keteguhan hatinya, disatu sisi Tuhan juga membuat sistem berupa makluk pembimbing yang bernama malaikat. Kita semua mempercayai hal tersebut, tetapi hanya sedikit yang memahaminya. Banyak yang mempercayai hal tersebut secara buta dan mengklaimnya sebagai keyakinan agama yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Bagaimana kita dapat mengetahui "cara" menjadi khalifah jika kita tidak memahami kenapa Tuhan menciptakan makhluk selain manusia, hewan, dan tumbuhan. Bagaimana kita menjadi pemimpin jika kita tidak tahu apa yang dipimpin.


”Yang Gagal”
Cerita satu,
Budi adalah anak yang baik. Dia selalu melakukan perbuatan terpuji. Waktu kecil dia yakin Tuhan akan mengabulkan semua yang diinginkannya kalau dia rajin beribadah, sehingga dia bercita-cita yang tinggi dalam hidupnya. Ketika mulai beranjak remaja, dia melihat kawan-kawannya banyak yang mulai meninggalkan ibadah wajib dan mencoba hal-hal baru yang bisa dibilang sebagai kenakalan remaja. Dia kemudian menjauhi kawan-kawannya karena sudah tidak sesuai dengan pandangan keyakinannya, dia mempertahankan statusnya sebagai ”Budi anak baik”. Sehari-hari dihabiskannya dengan melakukan ibadah wajib serta memperdalam ilmu agama di mesjid. Ketika waktunya dia berkeluarga dan harus pisah dari orang tuanya, dia mulai menghadapi berbagai rintangan. Rintangan hidup yang muncul dari keinginannya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dia bekerja pada suatu perusahaan tetapi akhirnya dia keluar karena merasa tidak nyaman dengan suasana kantornya yang berbeda dengan apa yang diyakininya. Ketika dia menganggur dia habiskan waktunya untuk beribadah secara khusus dan meminta kepada Tuhan agar diberikan pekerjaan lain. Setelah lama menunggu akhirnya dia mendapatkan pekerjaan baru. Dia sangat senang dengan lingkungan kerjanya yang dapat menerima dan memandangnya sebagai ”Budi yang alim”. Banyak dari rekan kerjanya menjagokannya dan meminta tolong agar pekerjaan mereka dibantu karena mereka tidak mampu. Dengan pikiran positifnya dia pun menerima dan menganggap bahwa itu adalahkewajibannya berbuat baik. Dia tidak sadar akan kebaikan yang ditunjukkannya. Sanjungan yang datang padanya membuat dia merasa bahwa inilah hasil ibadahnya selama ini. Sampai pada suatu hari dia pun menyadari bahwa dia hanya dimanfaatkan karena kebaikannya mengerjakan pekerjaan rekan-rekan kerjanya. Dia menyadari bahwa pujian yang diterimanya selama ini tidak tulus dan penuh pamrih. Dia menyadari bahwa rekan-rekannya hanya berpura-pura bodoh agar dapat menitipkan pekerjaan kepadanya, dan setelah selesai mereka justru mengklaim kepada atasan bahwa itu hasil kerja mereka.  Selama ini dengan pikiran positifnya dia tidak memperdulikan jika ada percakapan rekan-rekannya yang baginya hanya sebatas membicarakan aib orang lain Akhirnya karirnya pun tertinggal, satu persatu rekan kerjanya mulai meninggalkan dia karena sudah tidak memiliki kepentingan lagi dengannya. sampai dia pun memutuskan keluar dari pekerjaannya dengan alasan pribadi yang dia sendiri tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Kembali ketika dia menganggur dia habiskan waktunya untuk beribadah secara khusus dan meminta kepada Tuhan agar dia dijauhkan dari segala masalah lagi kedepan. Tetapi ternyata masalah yang muncul semakin banyak, yang seolah-olah ingin menunjukkan kepada dia ”masalah” seperti apa yang ingin dijauhkan dari dia. Satu persatu masalah muncul menyebabkan dia pupus harapan dan menurunkan cita-citanya menjadi ”hidup yang secukupnya saja”. Lama dia menganggur akhirnya dia mendapatkan tawaran untuk bertani dan menerima upah secukupnya dari pemilik lahan. Dia merasa ini sudah menjadi kodratnya dan ”menganggap” bahwa diakhirat dia pasti akan mendapatkan porsi yang lebih baik.

Cerita Dua,
Buto anak yang dikenal nakal dikampungnya. Hobi bapaknya adalah berjudi sementara ibunya jarang dirumah karena sibuk bergosip dengan tetangganya. Karena kurangnya pengetahuan orang tua dalam mendidiknya, maka dia merasa Agama hanyalah sebatas status belaka. Terkadang dia bertanya tentang keadilan Tuhan dalam hidupnya, tetapi dalam lingkungannya tidak ada yang dapat menjawabnya. Yang dia tahu bahwa setiap manusia pasti memiliki Tuhan. Dan Tuhan telah menciptakannya demikian.
Masa remajanya di penuhi dengan kerasnya kehidupan, sehingga menjadikan dia selalu berusaha bertahan agar tidak tergilas. Dia tidak mengenal yang namanya ketulusan, dan kejujuran. Yang dia tahu bahwa jika dia ingin senang, maka dia harus menyenangkan orang lain lebih dahulu. Dia harus selalu waspada setiap waktu untuk mendapatkan kesempatan agar kesenangan dia dapat terpenuhi. Dalam pergaulannya yang penuh dengan kekerasan, dia mendapatkan kawan-kawan setia yang merasa dipersatukan oleh kesamaan nasib. Dia jadi mengetahui tentang seluk beluk dunia hitam dengan berbagai intriknya.
Suatu hari dia mendapatkan tawaran pekerjaan untuk menjadi pengawal seorang pengusaha. Dengan pengalamannya di dunia hitam, dengan mudahnya dia dapat mengerjakan berbagai hal yang diinginkan pengusaha tersebut. Hingga sampai akhirnya pengusaha tersebut kemudian mempercayainya untuk memegang salah satu perusahaan. Akhirnya dia pun mendapatkan kesenangan yang diimpikannya dengan menghalalkan berbagai macam cara. Dia berhasil menjadi orang yang dikelilingi harta, tahta, dan wanita. Dia merasa bahwa inilah ”Cara”nya mencapai tujuan.

.........................
Jika melihat kedua narasi cerita diatas, yang kenyataannya banyak terjadi, kita dapat melihat bahwa sesungguhnya benar Tuhan yang maha mengabulkan doa. Segala keinginan baik maupun buruk semua didengar dan diresponNya. Sebagai mana persangkaan kita kepadaNya, ”baik kau minta baik Kuberi, buruk kau minta maka buruk Kuberi” begitu lah Yang Maha Adil menunjukkan keadilannya.
Pada cerita Budi kita melihat sosok manusia yang beramal tanpa berfikir. Permintaannya terlalu luas untuk diartikan. Permintaannya selalu dipenuhi dengan pamrih pribadi. Bukan brarti bahwa Tuhan tidak tahu apa yang betul-betul diinginkannya, tetapi justru Tuhan ingin menunjukkan kepadanya bahwa sebenarnya dia tidak tahu apa yang betul-betul dibutuhkannya. Kebanyakan dari kita yang gagal selalu mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sesuatu yang lebih baik dari ini, tapi pernahkah kita mencoba memahami makna ayat Kursi yang mengatakan bahwa Tuhan tahu apa yang didepan, dibelakang, dikanan, dan dikiri kita? Dan dia berada diatas Arasyi yang agung. Jika kita kaji secara sederhana saja makna ayat tersebut sesungguhnya mengatakan bahwa Tuhan akan mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan kita kedepan. Dia mengetahui apa yang telah kita lalui dibelakang, dan menanyakan apakah kita telah mengambil pelajaran dari hal tersebut. Dan atas kemurahanNya, Dia juga memberi kita bimbingan pengetahuan, pertolongan, kemudahan dan sebagainya melalui kanan dan kiri kita sebagai tambahan bekal perjalanan kita kedepan. Tapi apakah kita berfikir??? menyadari bahwa sesungguhnya Dia melihat dan mengawasi kita dari kursiNya, menunggu kita agar berfikir atau minimal kita menyadari betul ketidakmampuan kita dan menyerahkan kepadaNya karena hanya Dia yang Maha Mampu. Tapi banyak yang dari kita tidak tulus mengakui hal itu. Kita tidak ikhlas mengatakan bahwa aku gagal karena kebodohanku, aku gagal karena tidak rela melepaskan statusku. Setelah tenaga kita habis, umur kita habis, baru kita mengakui kalau sebenarnya kita tidak mampu dan kemudian kita mencukupkan diri kita sampai pada standar yang lebih rendah, yang ternyata juga direspon dan langsung dikabulkan oleh Tuhan. Apakah pasrah itu hanya ada pada saat akhir, ataukah sebenarnya kita harus memulai semuanya dengan sikap pasrah diawal?

Sekarang mari kita menilik kisah Buto, dengan pengetahuan sederhana yang dimilikinya, dia menjalani hidup tanpa adanya keinginan yang dipaksakan. Dia pasrah terhadap apapun yang terjadi pada dirinya, yang dia inginkan hanyalah  ”Kesenangan”, dan dia berusaha untuk mendapatkannya. Setahap demi setahap dia belajar dan mencoba melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kesenangan. Dia selalu memperhatikan keadaan sekitarnya agar mendapatkan berbagai kesempatan yang dapat membawanya kepada kesenangan. Tetapi kesenangan versi dia adalah kesenangan tanpa hati nurani. Permintaannya terlalu luas tak berbatas yang muncul dari nafsunya. Sehingga akhirnya dia selalu haus, selalu kurang, dan selalu ingin lebih untuk memuaskan nafsunya. Dia menjadi orang yang di butakan telinga, mata dan hatinya. Berkali-kali Tuhan mengingatkan dengan menunjukkan kebaikan disekelilingnya, tetapi dia tetap menginginkan kesenangan versi nafsunya sendiri yang dibuktikannya dengan perbuatan sungguh-sungguh.
....................................
Andaikata kita dapat melihat dua sisi kehidupan dan menghayatinya, maka yakinlah kita dapat mencapai kehidupan yang berhasil. Kita dapat memulainya dengan mulai menyadari kehidupan, sehingga kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan kita dapat menempatkannya pada tempatnya. Kita tahu kapan kita harus bersikap pasrah dalam artian sebenarnya, yaitu mengakui segala sesuatu bergantung hanya kepada Tuhan. Kita tahu kapan kita harus bersikap ikhlas dalam artian sebenarnya, yaitu mengakui segala sesuatu hanya milik Tuhan sementara kita tidak memiliki apapun jika tidak diberi. Kita tahu kapan kita harus bersikap tulus dalam artian sebenarnya, yaitu mengakui kekerdilan kita dihadapan Tuhan. Dan kita tahu kapan kita harus bersikap rela dalam artian sebenarnya, yaitu mengakui kebesaran Tuhan dibandingkan kita. Dan akhirnya sampailah kita dapat memahami bahwa baik dan buruk segalanya terjadi atas kehendakNya.
Silahkan kita membuat cita-cita setinggi langit, silakan kita berkeinginan untuk dapat menjadi khalifah dibumi bahkan semesta ini. Tetapi tidak lebih dan tidak kurang, pasti yang menjadi tujuan hidup manusia dimuka bumi ini adalah dapat mencapai hidup ”tenang dan senang”. Banyak yang tenang tetapi tidak senang, banyak yang senang tetapi tidak tenang. Maka ”cara" untuk mencapai keduanya adalah Pasrah, Ikhlas, Tulus, dan Rela dalam artian sebenarnya. Sehingga kita akan diberi petunjuk dan bimbinganNya. Dia akan memperlihatkan kebesaran nama-namaNya, Dia akan menunjukkan kesempurnaan sifatNya, dan benar ternyata Dia yang Maha Mengabulkan Segala Keinginan. Sehingga kita pun dapat menyaksikan bahwa ini adalah keinginanNya, sehingga yang menggerakkan adalah Dia, Tiada yang lain selain Dia. Maka bersyahadatlah kawan. Asyhadu anla ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.