Apa yang terdengar, terlihat dan terasa sesungguhnya itu adalah petunjuk, maka beruntunglah bagi yang menggunakan akal dan fikirannya. kebanyakan dari kita hanya melihat sesuatu itu dari kulit luarnya saja, kita tidak pernah mengupas makna dibalik suatu kejadian untuk kemudian kita terapkan dalam kehidupan kita. kita terlalu sibuk membenarkan apa yang sudah biasa, tetapi disisi lain kita melupakan untuk membiasakan yang benar. kita terlena dengan pemikiran-pemikiran yang rumit, yang semakin hari mendominasi dalam pemikiran kita. kepedulian kita terhadap sesuatu hanya berdasarkan gaya hidup yang berkembang, kita jarang menyatakan kepedulian yang bersumber dari hati nurani kita sendiri, sehingga penilaian hitam putih menjadi buram, hitam menjadi putih, putih menjadi hitam.
pernahkah kita berfikir bahwa segala sesuatu itu terjadi berkaitan dengan pola fikir kita? sebagai contoh ketika kita melihat kejadian orang yang baru saja putus hubungan, kebanyakan dari kita akan merasa empati dan berusaha membesarkan hati orang yang mengalami itu berdasarkan tingkat kedekatan emosional kita. kita tidak menempatkan sikap objektif sesuai kebenaran nurani, tetapi lebih kepada subjektifitas pribadi. yang secara tak sadar kita telah gegabah bersikap membela dan menghadirkan pemahaman subjektif yang kemudian diterapkan oleh pelaku kejadian tersebut. dan apabila kejadian ini jamak dilakukan, maka yang terjadi adalah pemahaman global terhadap suatu kasus yang kemudian menjadi trend pola pikir.
untuk itu marilah kita kembalikan ke dasar sumber pemahaman, kembalilah kepada kesederhanaan berfikir, kita harus tahu darimana sumbernya dan bisa dibuktikan kebenarannya, agar kita ditunjukkan dua sisi mata uang, kita akan melihat hitam dan putih secara jelas, sehingga kita bisa membedakan dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. marilah kita mulai dengan rasa menerima, menerima suatu keadaan dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi kita. ketika kesadaran akan hal itu tumbuh dalam diri kita, sesungguhnya disitulah kita mengkaji "untuk apa aku diciptakan?". hal-hal yang terlewati selama ini akan keluar dari memori alam bawah sadar kita, segala himpunan pengetahuan yang telah didapat akan menjadi petunjuk bagi diri kita yang belum tahu akan menjadi apa kita kedepan.
inilah tahap awal dalam kesadaran kita, yaitu kesadaran untuk mengetahui tujuan hidup.
setelah itu kita harus yakin tanpa adanya ambisi yang menyertai untuk mencapai tujuan tersebut. disinilah terjadinya perbedaan yang tipis yang mengakibatkan kesimpulan akhir yang berbeda. apakah sampai "hanya sekedar selesai" atau sampai kepada "menjadi bernilai". orang yang menghimpun berbagai macam pengetahuan yang akan membawanya mencapai tujuan dan menjadikannya sebagai landasan keyakinannya adalah orang yang yakin. dia akan berdiri tegak diatas kebenaran karena mengetahui sumber dan membuktikannya baik dari pengalamannya sendiri ataupun pengalaman orang lain. dia juga menghimpun pengetahuan tentang ketuhanan dan menjadikannya sebagai landasan sikap batinnya, orang yang yakin adalah orang yang menyatukan lahir dan bathinnya untuk mencapai tujuannya, sementara orang yang ambisi adalah orang yang tergesa-gesa dalam mencapai tujuan. dia menghimpun hanya sebatas apa yang menjadi kepentingannya saja. dia berjalan pada pola pikir subjektif yang cenderung membenarkan pendapat pribadinya, yang tanpa sadar ketika menghadapi berbagai rintangan yang menguji keteguhan bathinnya, maka dia tidak akan menerima kesalahan yang terjadi, sehingga semakin lama dia akan keluar jalur dan terpental dari tujuan awalnya dan kemudian akan menjadi orang yang selalu menyalahkan sistem. inilah tahap kedua dari perjalanan kesadaran kita, yaitu kita harus menjadi orang yang yakin sebenar yakin, yaitu yakin secara akal dan secara hati.
inilah kesadaran yang harus kita jaga, agar dapat diterapkan sehingga kemudian berbalik menjadi pola pikir yang selalu sadar, baik sadar akan segala hal yang terjadi maupun sadar tentang hal yang akan terjadi yang semuanya menyangkut ke arah tujuan kita. semakin banyak kesadaran yang muncul maka hal itulah yang menjadikan kita dan membuat kita akhirnya mengetahui "bahwa aku diciptakan sesuai yang kumau".
No comments:
Post a Comment